Politisi Gerindra Sampaikan Refleksi 18 Tahun Partai: Kunci Kesabaran dan Disiplin

7 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Partai Gerindra memasuki usia ke-18 dengan satu pengalaman penting yaitu bahwa waktu adalah variabel politik yang tidak bisa dipercepat, hanya bisa dikelola dengan kesabaran dan disiplin.

“Pernyataan ini tidak dimaksudkan sebagai perayaan kemenangan, melainkan sebagai penanda jalan. Sebab dalam politik, kemenangan yang tidak disertai ingatan kerap menjadi awal dari kelalaian,” kata anggota DPR RI Fraksi Gerindra, kepada media di Jakarta, Sabtu (7/2/2026).

Dia mengatakan, Gerindra lahir pada 2008 bukan dari kelapangan kekuasaan, melainkan dari rasa belum selesai terhadap arah republik.

Sejak awal, Gerindra memilih jalur yang tidak selalu nyaman yaitu organisasi lebih dulu, euforia belakangan. Struktur dibangun sebelum sorotan datang, kader dipersiapkan sebelum kursi tersedia.

“Pilihan ini membuat Gerindra tampak kaku bagi sebagian orang, tetapi justru memberi daya tahan ketika politik nasional bergerak cepat dan sering kehilangan arah,” tutur dia.

Azis menjelaskan, masuk parlemen pada 2009 adalah pijakan awal, bukan tujuan. Di fase ini, Gerindra belajar bahwa suara rakyat tidak datang sebagai hadiah, melainkan sebagai titipan yang menuntut kerja berulang.

Politik dipahami sebagai rutinitas yang melelahkan—mengunjungi daerah, menjaga struktur, dan merawat keyakinan bahwa partai harus tetap hidup bahkan ketika belum menang. “Di sinilah watak jangka panjang mulai terbentuk,” tutur dia.

Dia menyatakan kekalahan Pilpres 2009 kemudian 2014 menjadi momen pembelajaran yang menentukan. Prabowo Subianto kalah, tetapi partai tidak runtuh. Kekalahan itu justru menguji sesuatu yang lebih mendasar yaitu kesetiaan pada proses.

Gerindra, kata dia, memilih menjadi oposisi dengan kesadaran penuh bahwa oposisi bukan sekadar sikap, melainkan fungsi. Kritik diarahkan untuk menjaga kewarasan demokrasi, bukan untuk merawat dendam. “Dalam fase ini, partai belajar berdiri tegak tanpa kekuasaan—pelajaran yang mahal, tetapi membentuk karakter,” ujar dia.

Dia mengatakan, sepuluh tahun berada di luar pemerintahan memperjelas satu hal yaitu oposisi yang terlalu lama bisa berubah menjadi identitas kosong jika tidak disertai refleksi.

Kekalahan ketiga pada 2019, kata dia, memaksa Gerindra bercermin lebih dalam. Keputusan untuk masuk ke pemerintahan pada saat itu bukan lompatan emosional, melainkan langkah sadar bahwa politik juga menuntut keberanian untuk berubah posisi tanpa kehilangan prinsip.

“Dari luar, keputusan ini tampak kontradiktif; dari dalam, ia adalah upaya membaca ulang medan,” kata dia.

Dia mengatakan, perubahan posisi itu menggeser cara publik melihat Prabowo. Dari figur yang identik dengan perlawanan, ia perlahan tampil sebagai sosok yang bekerja dalam sistem, berbicara dengan bahasa stabilitas, dan menempatkan pengalaman sebagai modal politik.

“Transformasi ini tidak terjadi seketika. Ia berjalan seiring dengan perubahan cara partai mengelola pesan: lebih tenang, lebih terukur, dan lebih sadar bahwa pemilih Indonesia telah berubah—lebih muda, lebih cair, dan kurang tertarik pada konflik lama,” tutur Azis.

Yang kerap luput dibicarakan, kata dia, adalah kerja sunyi yang menopang semua itu. Pendidikan kader yang konsisten, perawatan struktur yang tidak tergesa, kerja senyap tokoh-tokoh kunci dan disiplin organisasi yang dijaga bahkan ketika tidak disorot kamera. Inilah aspek yang jarang viral, tetapi justru menentukan.

Dia menegaskan Gerindra tidak dibesarkan oleh momen, melainkan oleh rutinitas. Bukan oleh sorak, melainkan oleh kesabaran. Banyak tokoh dan kader militan yang terlibat secara totalitas di dalamnya.

Kemenangan 2024 akhirnya hadir sebagai akumulasi, menurut Azis, bukan kejutan. Ia terasa “pasti” bukan karena diramalkan, melainkan karena dipersiapkan lama. Prabowo berdiri sebagai simbol stabilitas, tetapi kemenangan itu sejatinya adalah kemenangan waktu—waktu yang diisi dengan kegigihan, koreksi diri, dan kesediaan untuk menunda kepuasan.

Dia mengatakan bagi Gerindra ke depan, usia 18 tahun seharusnya menjadi pengingat, bukan garis finis. Bahwa partai ini pernah kalah tiga kali dalam kompetisi demokratis pimpinan nasional bersama Prabowo Subianto dan tetap bertahan karena tidak tergoda jalan pintas.

“Bahwa kekuasaan pernah diraih justru setelah kesabaran diuji berkali-kali. Ingatan semacam ini penting agar kemenangan tidak berubah menjadi kealpaan,” ujar dia.

Bagi publik, kata dia, perjalanan ini menyisakan satu pelajaran yang lebih luas: dalam politik yang sering gaduh dan serba cepat, yang paling bertahan bukan mereka yang paling keras, melainkan mereka yang paling tekun mengelola waktu.

“Dan dalam pengelolaan waktu itulah, politik menemukan maknanya sebagai kerja panjang—bukan sekadar perebutan sesaat,” tutur Azis.

Read Entire Article